Ph.D
Emak..
‘’ Menuntut ilmu
itu dari buaian sampai ke liang lahat” ( HR. Ibnu Adi, Abu Nu’aim, Ibnu Abdil
Barr, Al-khotib, Al-Baihaqi).
Itu
salah satu hadist yang menyatakan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap manusia.
Kewajiban menuntut ilmu yang didasarkan pada hadist tersebut bermakna luas,
menuntut ilmu disini tidak harus di lembaga formal seperti sekolah atau perguruan
tinggi, tetapi bisa juga di majelis taklim, organisasi kemasyarakatan, membaca
buku dan lain-lain.
Alhamdulillah
aku diberikan kesempatan oleh yang Maha Kuasa, Yang Maha berilmu, untuk
menuntut ilmu di lembaga formal. Walaupun usiaku tidak muda
lagi..namun semangat menuntut ilmu tidak bisa lekang dari kalbuku..ciyeee. Aku
percaya, bahwa setiap manusia lahir ke dunia sudah dibekali dengan berbagai
alat dalam dirinya agar kelak ketika dewasa bisa berperan dalam kehidupannya
baik bagi diri, orang lain dan lingkungannya. Alat itu berupa sifat, kemampuan,
bakat dan rasa yang kuat yang bersemayam didalam diri. Aku tidak tau alat apa
yang dititipkan Allah kepadaku, yang paling aku tau sejak kecil aku senang
sekolah dan bermimpi bisa sekolah setingi-tingginya. Sejak kecil aku juga ingin
bersekolah di Jawa, tepatnya di Yogyakarta karena aku lahir disana. Rasanya ada
kesenangan tersendiri memikirkan hal itu, rasa yang tidak bisa diungkap dengan
kata dan hanya aku yang bisa merasakannya. Ya iyalaah..ππ
Dari
cerita itu jadi tau kan mengapa sampai setua ini masih semangat sekolah.
Semangat studiku bukan karbitan, tapi sudah ada sejak masih kanak-kanak, saat
belum ngerti apa2..ngertinya pokoe sekolah. Halah itu kan duluuu...kalau
sekarang paling karena tuntutan profesi sebagai pengajar,hehe..itu ada benarnya
juga sih, tapi motivasi terbesar ya ingin menuntut ilmu, karena masih semangat
dan alhamdulillah diberikan kemudahan dalam mendapatkan kesempatan itu. Menuntut ilmu itu kan salah satu bentuk ibadah dan jihad, ''jihad melawan kebodohan''. Harapannya, semoga ilmu itu akan membuatku menjadi orang yang lebih baik dan lebih banyak
manfaat.Aamiin.
Suamikulah orang yang bisa melihat semangatku untuk studi lagi, beliaulah yang memotivasi agar aku lanjut studi. Alhamdulilah dikarunia
Allah seorang suami yang sangat mendukungku untuk untuk terus bisa mengembangkan diri, meskipun anak-anak masih kecil bahkan ada yang masih menyusu Asi. Kegiatanku mengajar disela-sela mengasuh anak - anak kulakukan seminggu sekali diakhir minggu, mengajar di salah satu
perguruan tinggi di Lampung Timur. Walaupun aku sendiri punya
semangat setinggi langit, namun Allah juga memberiku rasa minder dan takut setinggi
awan. Takut sekali hijrah ke Jawa dengan 3 anak kecil, pastilah sangat repot, selain itu kemampuan diri yang pas-pasan, merasa diri tidak mampu, takut gagal dan kecemasan lainnya sangat menghantuiku. Berkat dorongan suami tercinta dan teman-teman sevisi ..aku beranikan
diri hijrah ke Jawa untuk studi, padahal saat itu anakku yang paling kecil baru
berusia 8 bulan, anak kedua usia 5 tahun dan anak pertama 7 tahun. Bismillah ..nekad bedol desa, boyongan sekeluarga. Seperti mimpi rasanya bisa tinggal di pulau Jawa, ini
benar-benar karunia Allah yang tiada tara, tanpa kehendak Allah aku tak akan
bisa sampai di bumi Jawa, Solo Raya khususnya.
Sesampai di Jawa aku mempersiapkan segalanya, termasuk mencari sekolah untuk anak-mbarep dan kedua. Setelah urusan anak-anak beres, barulah aku mempersiapkan diriku untuk mendaftar di salah satu PTN Surakarta. Singkat cerita, setelah melalui
serangkaian tahapan tes yang melelahkan lahir dan batin alhamdulillah aku bersama ke 15 temanku dinyatakan di terima di
salah satu perguruan tinggi negeri di Surakarta, sujud syukur kepada Allah atas
karunia ini. Selanjutnya kehidupan baru yang penuh berjuangan ada didepan mata...taaraaa...eng ing eng..π
Menjalani
hari-hari sebagai mahasiswa baru di rantau orang tanpa didampingi suami
tercinta alias LDR atau LDM (long distance marriage), dengan tiga anak yang masih kecil dan jauh pula dari
sanak saudara, bukan hal yang mudah. Kalau dibayangin rasanya aku nggak
sanggup, tapi aku punya prinsip bahwa hidup itu jangan di bayangkan, tapi
dijalani, disyukuri dan dinikmati..hehe. Bersyukur dari pengalaman itu aku menjadi
tau kekuatan yang Allah titipkan kepada diri ini...ooh ternyata aku bisa
yaa..hee. Pernah aku tanya sama suamiku. ’’ Abi kok berani sih melepas istrinya
di tempat sejauh ini, tanpa keluarga cuma sama anak-anak?’’. ‘’Karena aku
percaya ..kamu itu bisa’’..suit..suit...jawabannya bikin GR dan pengen nangis
trus mukul bahunya pake bantal, sayange nun jauh disana ..hiks π’
Dikelas Aku
merasa menjadi mahasiswa paling gak pinter, walau aku bekerja sebagai
dosen, aku masih minim pengalaman dibandingkan dengan teman-temanku di kelas
yang notabene memiliki pengalaman keilmuan segambreng, menulis, membaca jurnal internasional juga pengalaman menjabat
dan lain-lain. Itu sangat berpengaruh pada perjalanan studiku di awal semester, justru itu yangvmembuatku makin semangat untuk lebih giat belajar. Meskipun kawan-kawan dikelas pinter-pinter tetapi, aku merasa nyaman karena mereka tidak ada yang
merasa paling pinter, mereka sangat rendah hati, tidak pelit untuk
berbagi ilmu yang sebagian besar masih buta bagiku. Lagi-lagi aku sangat bersyukur..π
Tahun pertama kulalui
dengan sangaaat berat, kuliah hanya dua hari per minggu, tapi tugasnya seabrek,
kudu digarap tiap hari. Jadilah setiap malam aku begadang nggarap tugas, membaca jurnal seabrek yang semuanya berbahasa inggris, sedangkan bahasa inggrisku nggratul2...huaa. Aku tidak menyerah, malah makin penasaran bagaimana membaca jurnal yang efektif dengan banyak membaca dan bertanya kepada teman-teman juga suami. Terjemahanku masih kasar, segala alat dicoba..kamus, google translit atau tanya teman dan suami, itupun gak bisa sering-sering, karena suami sangat sibuk. Kalau gak kepepet gak berani ganggu
pekerjaaanya, lagian jauuh di seberang sana. Kalau pas datang berkunjung gak tegalah
ngasih kerjaan, masak dah lama gak ketemu, begitu ketemu diminta terjemahkan
jurnal...haha. Ada lagi..alasan gak mau minta tolong ke suami pertama ingin
melatih kemandirian belajar dan mengasah kemampuan, kedua aku gak mau dituduh
ngandelin suami..mentang – mentang suami dosen bahasa inggris.
Tantangan
studiku bukan hanya LDM, gagap ilmu namun, saat tugas menumpuk, khadimat ijin
berhari-hari, sedangkan anak-anak sakit bareng bertiga dan banyak lagi
tantangan lainnya. Sering sekali aku hadapi hal-hal yang tak terduga seperti ini misalnya, pernah
suatu hari aku sudah siap-siap berangkat kekampus, baru keluar pintu rumah, tetiba khadimat minta ijin karena dikabari anaknya mau melahirkan,
sedangkan aku hari itu dapat tugas presentasi. Rasanya ingin marah..kenapa
mendadak, tapi ya sudahlah, aku coba kalem bersabar, sambil mikir anakku mau
dititipkan siapa, akhirnya aku titipkan di TPA di sekolah kakaknya. Dengan hati
agak dongkol kugendong si bungsu, naik sepeda motor mampir TPA sekalian
kekampus.
Ijin khadimatku ternyata sampai dua minggu, otomatis semua aku kerjakan sendiri, menjaga si bungsu, kerjakan tugas review jurnal dan bahan presentasi, menyediakan makanan, baju seragam, memandikan si bungsu, bantu isi PR, menemani mengaji dan antar jemput kakak ke sekolah, juga beberes rumah . Sering aku baca
jurnal atau ngetik sambil menyusui anakku, sampai tertawa melihat diriku sendiri π untung gak difoto waktu itu, walhasil, belajar
siang malam, sering lembur , makan jadi tidak teratur, akhirnya badan rasanya kuyuu sekali..nglemprek. Pernah
juga saat dikejar deadline..anak-anak sakit bareng bertiga, tengah malam aku
bawa salah satu anakku ke dokter, yang dua aku tinggal dirumah karena sedang tidur. Ya
Allah...kalau sudah begitu, rasanya nyesek dada ini, ingin menjerit dan menangis sejadi-jadinya π, terus telpon suami, beliau dengan telaten membesarkan hatiku, menyabarkan aku, ngepuk puk aku sampai aku lega dan semangat lagi. Seringnya aku ndeprok di sajadah
sambil nangis sesenggukan mengadukan semuanya sampai lemes dan lega.
Ya Allah beri aku kekuatan, ridhoilah jalan yang aku pilih ini, berkahilah..aamiin. Kadang diri yang masih lemah iman ini protes Ya Allah ..gini amat sih lakon
hidupku, terselip perasaan menyesal dihatiku, salahkah jalan yang kupilih ini? pertanyaan yang sangat melemahkan semangatku apalagi Syaiton gak mau ketinggalan peran untuk menggodaku dengan berbisik..''salahmu dewe, wes urip enak disana
..malah petakilan sekolah di rantau orang''. Huaa...tidaaaak, seperti tersengat lebah, muncul kembali semangat dalam diriku, aku berazzam tidak akan
menyerah, aku pasti bisa, Allah pasti akan menolongku, menguatkan aku. Basah wajah ini, sajadah,
mukena...tapi buru - buru kulap karena ada yang teriak memanggil ”Ummi..” ooh
bungsuku nglilir ingin ngAsi. Bergegas aku lipat mukena seadanya, kemudian lari kekamar tempat bungsu tidur..menunaikan tugas utama, sampai ikut terlelap. Dalam lelapku, aku melihat diriku sedang membaca jurnal yang penuh istilah sangat asing bagiku..
Tobe
continued..
#NBB
#NulisBukuBareng
#IIPSoloRaya
#Bundaraha_U
#StudentMom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar