Rabu, 12 April 2017

Ph.D Emak



Ph.D Emak..


‘’ Menuntut ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat” ( HR. Ibnu Adi, Abu Nu’aim, Ibnu Abdil Barr, Al-khotib, Al-Baihaqi).

Itu salah satu hadist yang menyatakan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap manusia. Kewajiban menuntut ilmu yang didasarkan pada hadist tersebut bermakna luas, menuntut ilmu disini tidak harus di lembaga formal seperti sekolah atau perguruan tinggi, tetapi bisa juga di majelis taklim, organisasi kemasyarakatan, membaca buku dan lain-lain.

Alhamdulillah aku diberikan kesempatan oleh yang Maha Kuasa, Yang Maha berilmu, untuk menuntut ilmu di lembaga formal. Walaupun usiaku tidak muda lagi..namun semangat menuntut ilmu tidak bisa lekang dari kalbuku..ciyeee. Aku percaya, bahwa setiap manusia lahir ke dunia sudah dibekali dengan berbagai alat dalam dirinya agar kelak ketika dewasa bisa berperan dalam kehidupannya baik bagi diri, orang lain dan lingkungannya. Alat itu berupa sifat, kemampuan, bakat dan rasa yang kuat yang bersemayam didalam diri. Aku tidak tau alat apa yang dititipkan Allah kepadaku, yang paling aku tau sejak kecil aku senang sekolah dan bermimpi bisa sekolah setingi-tingginya. Sejak kecil aku juga ingin bersekolah di Jawa, tepatnya di Yogyakarta karena aku lahir disana. Rasanya ada kesenangan tersendiri memikirkan hal itu, rasa yang tidak bisa diungkap dengan kata dan hanya aku yang bisa merasakannya. Ya iyalaah..πŸ˜„πŸ˜„

Dari cerita itu jadi tau kan mengapa sampai setua ini masih semangat sekolah. Semangat studiku bukan karbitan, tapi sudah ada sejak masih kanak-kanak, saat belum ngerti apa2..ngertinya pokoe sekolah. Halah itu kan duluuu...kalau sekarang paling karena tuntutan profesi sebagai pengajar,hehe..itu ada benarnya juga sih, tapi motivasi terbesar ya ingin menuntut ilmu, karena masih semangat dan alhamdulillah diberikan kemudahan dalam mendapatkan kesempatan itu. Menuntut ilmu itu kan salah satu bentuk ibadah dan jihad, ''jihad melawan kebodohan''. Harapannya, semoga ilmu itu akan membuatku menjadi orang yang lebih baik dan lebih banyak manfaat.Aamiin.

 Suamikulah orang yang bisa melihat semangatku untuk studi lagi, beliaulah yang memotivasi agar aku lanjut studi. Alhamdulilah dikarunia Allah seorang suami yang sangat mendukungku untuk untuk terus bisa mengembangkan diri, meskipun anak-anak masih kecil bahkan ada yang masih menyusu Asi. Kegiatanku mengajar disela-sela mengasuh anak - anak kulakukan seminggu sekali diakhir minggu, mengajar di salah satu perguruan tinggi di Lampung Timur. Walaupun aku sendiri punya semangat setinggi langit, namun Allah juga memberiku  rasa minder dan takut setinggi awan. Takut sekali hijrah ke Jawa dengan 3 anak kecil, pastilah sangat repot, selain itu kemampuan diri yang pas-pasan, merasa diri tidak mampu, takut gagal dan kecemasan lainnya sangat menghantuiku. Berkat dorongan suami tercinta dan teman-teman sevisi ..aku beranikan diri hijrah ke Jawa untuk studi, padahal saat itu anakku yang paling kecil baru berusia 8 bulan, anak kedua usia 5 tahun dan anak pertama 7 tahun. Bismillah ..nekad bedol desa, boyongan sekeluarga. Seperti mimpi rasanya bisa tinggal di pulau Jawa, ini benar-benar karunia Allah yang tiada tara, tanpa kehendak Allah aku tak akan bisa sampai di bumi Jawa, Solo Raya khususnya. 

Sesampai di Jawa aku mempersiapkan segalanya, termasuk mencari sekolah untuk anak-mbarep dan kedua. Setelah urusan anak-anak beres, barulah aku mempersiapkan diriku untuk mendaftar di salah satu PTN Surakarta. Singkat cerita, setelah melalui serangkaian tahapan tes yang melelahkan lahir dan batin alhamdulillah aku bersama ke 15 temanku dinyatakan di terima di salah satu perguruan tinggi negeri di Surakarta, sujud syukur kepada Allah atas karunia ini. Selanjutnya kehidupan baru yang penuh berjuangan ada didepan mata...taaraaa...eng ing eng..πŸ˜ƒ

Menjalani hari-hari sebagai mahasiswa baru di rantau orang tanpa didampingi suami tercinta alias LDR atau LDM (long distance marriage), dengan tiga anak yang masih kecil dan jauh pula dari sanak saudara, bukan hal yang mudah. Kalau dibayangin rasanya aku nggak sanggup, tapi aku punya prinsip bahwa hidup itu jangan di bayangkan, tapi dijalani, disyukuri dan  dinikmati..hehe. Bersyukur dari pengalaman itu aku menjadi tau kekuatan yang Allah titipkan kepada diri ini...ooh ternyata aku bisa yaa..hee. Pernah aku tanya sama suamiku. ’’ Abi kok berani sih melepas istrinya di tempat sejauh ini, tanpa keluarga cuma sama anak-anak?’’. ‘’Karena aku percaya ..kamu itu bisa’’..suit..suit...jawabannya bikin GR dan pengen nangis trus mukul bahunya pake bantal, sayange nun jauh disana ..hiks 😒

Dikelas Aku merasa menjadi mahasiswa paling gak pinter, walau aku bekerja sebagai dosen, aku masih minim pengalaman dibandingkan dengan teman-temanku di kelas yang notabene memiliki pengalaman keilmuan segambreng, menulis, membaca jurnal internasional juga pengalaman menjabat dan lain-lain. Itu sangat berpengaruh pada perjalanan studiku di awal semester, justru itu yangvmembuatku makin semangat untuk lebih giat belajar. Meskipun kawan-kawan dikelas pinter-pinter tetapi, aku merasa nyaman karena mereka tidak ada yang merasa paling pinter, mereka sangat rendah hati, tidak pelit untuk berbagi ilmu yang sebagian besar masih buta bagiku. Lagi-lagi aku sangat bersyukur..πŸ’š

Tahun pertama kulalui dengan sangaaat berat, kuliah hanya dua hari per minggu, tapi tugasnya seabrek, kudu digarap tiap hari. Jadilah setiap malam aku begadang nggarap tugas, membaca jurnal seabrek yang semuanya berbahasa inggris, sedangkan bahasa inggrisku nggratul2...huaa. Aku tidak menyerah, malah makin penasaran bagaimana membaca jurnal yang efektif dengan banyak membaca dan bertanya kepada teman-teman juga suami. Terjemahanku masih kasar, segala alat dicoba..kamus, google translit atau tanya teman dan suami, itupun gak bisa sering-sering, karena  suami  sangat sibuk. Kalau gak kepepet gak berani ganggu pekerjaaanya, lagian jauuh di seberang sana. Kalau pas datang berkunjung gak tegalah ngasih kerjaan, masak dah lama gak ketemu, begitu ketemu diminta terjemahkan jurnal...haha. Ada lagi..alasan gak mau minta tolong ke suami pertama ingin melatih kemandirian belajar dan mengasah kemampuan, kedua aku gak mau dituduh ngandelin suami..mentang – mentang suami dosen bahasa inggris.

Tantangan studiku bukan hanya LDM, gagap ilmu namun, saat tugas menumpuk, khadimat ijin berhari-hari, sedangkan anak-anak sakit bareng bertiga dan banyak lagi tantangan lainnya. Sering sekali aku hadapi hal-hal yang tak terduga seperti ini misalnya, pernah suatu hari aku sudah siap-siap berangkat kekampus, baru keluar pintu rumah, tetiba khadimat minta ijin karena dikabari anaknya mau melahirkan, sedangkan aku hari itu dapat tugas presentasi. Rasanya ingin marah..kenapa mendadak, tapi ya sudahlah, aku coba kalem bersabar, sambil mikir anakku mau dititipkan siapa, akhirnya aku titipkan di TPA di sekolah kakaknya. Dengan hati agak dongkol kugendong si bungsu, naik sepeda motor mampir TPA sekalian kekampus. 

Ijin khadimatku ternyata sampai dua minggu, otomatis semua aku kerjakan sendiri, menjaga si bungsu, kerjakan tugas review jurnal dan bahan presentasi, menyediakan makanan, baju seragam, memandikan si bungsu, bantu isi PR, menemani mengaji dan antar jemput kakak ke sekolah, juga beberes rumah . Sering aku baca jurnal atau ngetik sambil menyusui anakku, sampai tertawa melihat diriku sendiri πŸ˜„ untung gak difoto waktu itu, walhasil, belajar siang malam, sering lembur ,  makan jadi tidak teratur, akhirnya badan rasanya kuyuu sekali..nglemprek. Pernah juga saat dikejar deadline..anak-anak sakit bareng bertiga, tengah malam aku bawa salah satu anakku ke dokter, yang dua aku tinggal dirumah karena sedang tidur.  Ya Allah...kalau sudah begitu, rasanya nyesek dada ini, ingin menjerit dan menangis sejadi-jadinya 😭, terus  telpon suami, beliau dengan telaten membesarkan hatiku, menyabarkan aku, ngepuk puk aku sampai aku lega dan semangat lagi. Seringnya aku ndeprok di sajadah sambil nangis sesenggukan mengadukan semuanya sampai lemes dan lega. 

Ya Allah beri aku kekuatan, ridhoilah jalan yang aku pilih ini, berkahilah..aamiin. Kadang diri yang masih lemah iman ini protes Ya Allah ..gini amat sih lakon hidupku, terselip perasaan menyesal dihatiku, salahkah jalan yang kupilih ini? pertanyaan yang sangat melemahkan semangatku apalagi Syaiton gak mau ketinggalan peran untuk menggodaku dengan berbisik..''salahmu dewe, wes urip enak disana ..malah petakilan sekolah di rantau orang''. Huaa...tidaaaak, seperti tersengat lebah, muncul kembali semangat dalam diriku, aku berazzam tidak akan menyerah, aku pasti bisa, Allah pasti akan menolongku, menguatkan aku. Basah wajah ini, sajadah, mukena...tapi buru - buru kulap karena ada yang teriak memanggil ”Ummi..” ooh bungsuku nglilir ingin ngAsi. Bergegas aku lipat mukena seadanya, kemudian lari kekamar tempat bungsu tidur..menunaikan tugas utama, sampai ikut terlelap. Dalam lelapku, aku melihat diriku sedang membaca jurnal yang penuh istilah sangat asing bagiku..

Tobe continued..

#NBB
#NulisBukuBareng
#IIPSoloRaya
#Bundaraha­_U

#StudentMom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Say Hello Gado=Gado Pasca Libur Panjaang Ngeblog

Bismillah .. Hallo bunda....lama tak jumpa, apabakar? Semoga selalu sehat dan bermanfaat untuk sesama..aamiin. Lama menghilang ..tetiba ...