Jumat, 14 April 2017

Proses Hadirmu, Sang Buah Hati πŸ’–πŸ’–πŸ’–



Membicarakan buah hati memang taida habisnya dibahas, mulai dari kehamilan sampai masa anak-anak bahkan remaja. Masa kehamilan ketiga buah hati kami memiliki banyak kesamaan, terutama saat tri wulan pertama, saya mengalami masa nyidam, teler atau mabok istilah lainnya. Gejalanya pusing, mual, muntah. Gejala itu muncul mulai pagi hari sampai jam 12 siang. Kalau sudah bisa keluar isi perut biasanya penderitaan berkurang , dan sedikit demi sedikit bisa diisi makanan lagi. Masa – masa penuh penderitaan itu berlangsung sekitar 3 – 4 bulan, setelah itu kembali normal, bisa menyantap makanan apa saja walaupun kadang malah sebaliknya gak punya selera makan sama sekali. Setiap mau makan, kudu dipancing dulu, dengan melihat gambar makanan dari majalah, iklan tivi atau cerita tetangga tentang menu makanan yang enak-enak, serba salah ya πŸ˜€πŸ˜„


Uniknya saat hamil, kalau makan dirumah biasanya langsung keluar, tapi kalau makan ditempat orang, bukan di restoran atau warung makan lhoo..bisa lahap dan habis banyak. Kadang aku kerumah teman bawa bekal makanan, nanti di makan sama-sama dirumahnya. Selain itu ada keanehan lain, pas hamil anak pertama..kalau pagi sebelum berangkat kerja, diajak jalan dulu sama suami naik motor menyusuri kota, istirahat kalau sudah hilang mualnya kemudian diajak pulang. Masih ada lagi, waktu itu aku masih studi master, kuliah hari senin – kamis mulai pukul 4 sore sampai 10 malam. Kalau dirumah, dari pagi sampai siang lemes aja bawaanya, ibaratnya menyangga kepala aja gak kuat, kudu rebahan atau duduk, ajaibnya kalau sudah dikampus sampai jam 22 malam tetap segeer aja. Itulah berbagai cara unik menghilangkan mabok hamil, aneh tapi nyata, ndak bisa  sembuh sebelum usia kehamilan 4 bulan lebih.


Itu kehamilan anak pertama, anak kedua sedikit berbeda..gak bisa suami ngajak keliling kota sebelum berangkat kerja, karena ketika kandungan berusia dua bulan beliau berangkat studi ke benua yang lain. Sejak itu raga kami berjarak ribuan mill alias LDR (Long Distance Relationship) kalau sekarang dikenal juga dengan LDM (Long Distance Marriage). Subhanallah, Allah memberi ujian sesuai kemampuan hamba-Nya, mungkin karena LDM, kehamilan kali ini masa maboknya hanya 3 bulan, itupun gak separah kehamilan pertama. Bagaimana dengan anak ketiga? Hampir 4 bulan masa maboknya, mungkin lagi karena abinya sudah kembali bersama kami jadi kambuh lagi seperti hamil anak pertama hehe, bedanya suami sudah mulai lebih sibuk banyak tawaran pekerjaan sehingga gak bisa sering – sering menemani kami.


Proses kelahiran ketiga buah hati kami, masing – masing  memiliki kesan tersendiri. Anak pertama lahir normal , anak ketiga lahir dengan operasi sesar (SC) karena plasenta previa dan posisi sungsang, terlalu berisiko kalau memilih lahir normal. Kami anggap paling Istimewa adalah proses kelahiran anak kedua, ptidak bisa ditunggui oleh abinya, hanya ditunggui kakak-kakakku dan ibuku saja. Sore itu aku mau ambil wudhu untuk sholat ashar, ternyata aku melihat ada bercak darah, aku tau itu salah satu tanda mau melahirkan. Kusampaikan kepada ibuku dan anggota keluarga lainnya, segera aku diantar ke klinik yang sudah aku pilih. Semua perlengkapan ibu dan bayi sudah kususun rapi di dua tas yang berbeda, agar mudah nanti membawanya. Sampai di klinik diperiksa oleh Bu Bidan, tampaknya baru bukaan dua, aku sempatkan menulis sms kepada suamiku.


Tak lama kemudian beliau telpon  suarane terdengar panik..aku coba tenangkan bahwa aku baik – baik saja,minta didoakan saja prosesnya lancar dan selamat semuanya. Telpon ditutup karena mau sholat jumat, di sana saat itu masih siang. Rasa sakit yang tak terkira semakin terasa..aku menyebut asma Allah, sambil mencoba gerak – gerak untuk mengurangi rasa sakit, rasa cemas menyusup dihatiku, karena suamiku tidak bisa dihubungi, rupanya  jaringan sinyal seluler sedang rusak diseluruh daerah sekitarku, praktis handphone (HP) tidak bisa digunakan untuk komunikasi dalam bentuk apapun. Rasa nyeri semakin sering, ketuban sudah pecah ..ya Allah warnanya kehijauan, semoga tidak apa-apa, aku jadi takut karena anak pertama dulu warna ketubannya putih bening. Terus berdoa mohon yang terbaik, sambil meringis menahan nyeri yang hebat..sudah bukaan delapan, tapi belum ada kontraksi. 


Detik – detik menjelang kelahiran, HP disampingku berdering, aku raih segera alhamdulillah jaringan sudah kembali normal dan ternyata Abi yang telpon, terdengar tangis diseberang sana, ya Allah kasihan suamiku, sampai seperti itu mencemaskanku karena usai sholat jumat tidak bisa hubungi kami.  Beliau terus memberiku semangat..aku menjawab dengan suara patah – patah  menahan nyeri yang semakin kuat, beliau terus memotivasi dengan kata indah yang berusaha menguatkanku ...namun saat nyeri semakin tak tertahan HP kuletakkan tanpa sempat pamitan...terdengar suara suamiku haloo..haloo...Mi..Miii...Miiii....tut..tut..sambungan telepon putus


Entah apa yang dipikirkan bidan yang menolongku saat itu, melihat adegan dramatis dan romantis seperti  di sinetron. Alhamdulillah setelah menunggu kurang lebih dua jam, bayi kami lahir dengan selamat, masyaaallah benar perkiraan Bu Bidan..bayiku berat badannya 4 kg!, lahir normal, pantes saja tadi aku merasa badanku seperti mau pecah saat mengeluarkannya, beda banget dengan kelahiran anak pertama yang bobotnya hanya 3, 1 kg.  Saat dijahit,  rasa sakit tak kurasakan lagi, padahal kata bidan bukan dijahit lagi mbak, ini mah diobras, haha, rasa sakit hilang saat melihat bayiku yang montok, sehat dan cantik ...

HP berdering lagi..dari Abi, aku pakewuh sama bu bidan mau nerima telpon itu, tapi mereka maklum jadi menyarankanku untuk menerima telpon, padahal aku masih dalam kondisi sedikit lemas, belum dibersihkan, nafas yang masih tersengal, keringat membanjiri seluruh tubuhku,basah. Bu Bidan masih menekan – nekan perutku, sepertinya ada sesuatu yang masih harus dikeluarkan. Kuterima telpon dari suamiku, adegan dramatis plus romantis kembali dimulai hehe😊. Bidan yang menolongku tiga orang, diklinik ini tidak ada perawat, satu bidan menekan perutku, membersihkan tubuhku, satu lagi menolong bayiku, sedangkan satu lagi memberi pengarahan, beliau bidan senior. Telpon ditutup kembali, dan akan menelpon lagi jika bayi kami sudah dibersihkan untuk di adzani.


Ba’da maghrib aku dan bayiku sudah dipindah ke ruang perawatan, sudah bersih, rapih dan wangi. Bayi sudah bisa ngAsi, walau kudu berdebat dulu dengan bidannya, yang meminta diberi sufor, sedangkan aku berusaha meyakinkannya bahwa aku bisa, karena Asi juga sudah keluar sejak usia kandungan 6 bulan. Suami menelepon lagi, untuk mengadzani anak kami, karena kondisi berjarak jauh..maka diadzani lewat handphone..ya Allah menetes air mata ini, antara bahagia sekaligus haru. Alhamdulillah ..bersyukur meskipun berjauhan, bayi kami masih bisa diadzani langsung oleh abinya. Beberapa tahun kemudian ada iklan salah satu provider seluler nasional yang tayang di stasiun televisi seperti adegan itu, iklan itu bercerita tentang pasangan yang LDM, melahirkan tak ditunggui dan bayinya di adzani via handphone, mirip kisah kami...😊

#NBB
#NulisBukuBareng               
#IIPSoloRaya
#Buahhati

2 komentar:

  1. Melahirkan itu memang jihad yg tidak ada duanya bunda..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bunda, bersyukur diberi kesempatan merasakannya ..

      Hapus

Say Hello Gado=Gado Pasca Libur Panjaang Ngeblog

Bismillah .. Hallo bunda....lama tak jumpa, apabakar? Semoga selalu sehat dan bermanfaat untuk sesama..aamiin. Lama menghilang ..tetiba ...