Membicarakan buah hati
memang taida habisnya dibahas, mulai dari kehamilan sampai masa anak-anak
bahkan remaja. Masa kehamilan ketiga buah hati kami memiliki banyak kesamaan, terutama
saat tri wulan pertama, saya mengalami masa nyidam, teler atau mabok istilah
lainnya. Gejalanya pusing, mual, muntah. Gejala itu muncul mulai pagi
hari sampai jam 12 siang. Kalau sudah bisa keluar isi perut biasanya
penderitaan berkurang , dan sedikit demi sedikit bisa diisi makanan lagi. Masa –
masa penuh penderitaan itu berlangsung sekitar 3 – 4 bulan, setelah itu kembali
normal, bisa menyantap makanan apa saja walaupun kadang malah sebaliknya gak
punya selera makan sama sekali. Setiap mau makan, kudu dipancing dulu, dengan
melihat gambar makanan dari majalah, iklan tivi atau cerita tetangga tentang
menu makanan yang enak-enak, serba salah ya ππ
Uniknya saat hamil,
kalau makan dirumah biasanya langsung keluar, tapi kalau makan ditempat orang,
bukan di restoran atau warung makan lhoo..bisa lahap dan habis banyak. Kadang aku
kerumah teman bawa bekal makanan, nanti di makan sama-sama dirumahnya. Selain itu
ada keanehan lain, pas hamil anak pertama..kalau pagi sebelum berangkat kerja,
diajak jalan dulu sama suami naik motor menyusuri kota, istirahat kalau sudah
hilang mualnya kemudian diajak pulang. Masih ada lagi, waktu itu aku masih
studi master, kuliah hari senin – kamis mulai pukul 4 sore sampai 10 malam. Kalau
dirumah, dari pagi sampai siang lemes aja bawaanya, ibaratnya menyangga kepala
aja gak kuat, kudu rebahan atau duduk, ajaibnya kalau sudah dikampus sampai jam
22 malam tetap segeer aja. Itulah berbagai cara unik menghilangkan mabok hamil,
aneh tapi nyata, ndak bisa sembuh
sebelum usia kehamilan 4 bulan lebih.
Itu kehamilan anak
pertama, anak kedua sedikit berbeda..gak bisa suami ngajak keliling kota
sebelum berangkat kerja, karena ketika kandungan berusia dua bulan beliau berangkat
studi ke benua yang lain. Sejak itu raga kami berjarak ribuan mill alias LDR (Long Distance Relationship) kalau
sekarang dikenal juga dengan LDM (Long
Distance Marriage). Subhanallah, Allah memberi ujian sesuai kemampuan hamba-Nya,
mungkin karena LDM, kehamilan kali ini masa maboknya hanya 3 bulan, itupun gak
separah kehamilan pertama. Bagaimana dengan anak ketiga? Hampir 4 bulan masa
maboknya, mungkin lagi karena abinya sudah kembali bersama kami jadi kambuh
lagi seperti hamil anak pertama hehe, bedanya suami sudah mulai lebih sibuk
banyak tawaran pekerjaan sehingga gak bisa sering – sering menemani kami.
Proses kelahiran ketiga
buah hati kami, masing – masing memiliki
kesan tersendiri. Anak pertama lahir normal , anak ketiga lahir dengan operasi
sesar (SC) karena plasenta previa dan posisi sungsang, terlalu berisiko kalau
memilih lahir normal. Kami anggap paling Istimewa adalah proses kelahiran anak
kedua, ptidak bisa ditunggui oleh abinya, hanya ditunggui kakak-kakakku dan
ibuku saja. Sore itu aku mau ambil wudhu untuk sholat ashar, ternyata aku
melihat ada bercak darah, aku tau itu salah satu tanda mau melahirkan. Kusampaikan
kepada ibuku dan anggota keluarga lainnya, segera aku diantar ke klinik yang
sudah aku pilih. Semua perlengkapan ibu dan bayi sudah kususun rapi di dua tas
yang berbeda, agar mudah nanti membawanya. Sampai di klinik diperiksa oleh Bu
Bidan, tampaknya baru bukaan dua, aku sempatkan menulis sms kepada suamiku.
Tak lama kemudian beliau
telpon suarane terdengar panik..aku coba
tenangkan bahwa aku baik – baik saja,minta didoakan saja prosesnya lancar dan
selamat semuanya. Telpon ditutup karena mau sholat jumat, di sana saat itu masih
siang. Rasa sakit yang tak terkira semakin terasa..aku menyebut asma Allah,
sambil mencoba gerak – gerak untuk mengurangi rasa sakit, rasa cemas menyusup
dihatiku, karena suamiku tidak bisa dihubungi, rupanya jaringan sinyal seluler sedang rusak diseluruh
daerah sekitarku, praktis handphone (HP)
tidak bisa digunakan untuk komunikasi dalam bentuk apapun. Rasa nyeri semakin
sering, ketuban sudah pecah ..ya Allah warnanya kehijauan, semoga tidak
apa-apa, aku jadi takut karena anak pertama dulu warna ketubannya putih bening.
Terus berdoa mohon yang terbaik, sambil meringis menahan nyeri yang hebat..sudah
bukaan delapan, tapi belum ada kontraksi.
Detik – detik menjelang kelahiran, HP
disampingku berdering, aku raih segera alhamdulillah jaringan sudah kembali
normal dan ternyata Abi yang telpon, terdengar tangis diseberang sana, ya Allah
kasihan suamiku, sampai seperti itu mencemaskanku karena usai sholat jumat
tidak bisa hubungi kami. Beliau terus
memberiku semangat..aku menjawab dengan suara patah – patah menahan nyeri yang semakin kuat, beliau terus
memotivasi dengan kata indah yang berusaha menguatkanku ...namun saat nyeri
semakin tak tertahan HP kuletakkan tanpa sempat pamitan...terdengar suara suamiku
haloo..haloo...Mi..Miii...Miiii....tut..tut..sambungan telepon putus
Entah apa yang
dipikirkan bidan yang menolongku saat itu, melihat adegan dramatis dan romantis
seperti di sinetron. Alhamdulillah setelah
menunggu kurang lebih dua jam, bayi kami lahir dengan selamat, masyaaallah
benar perkiraan Bu Bidan..bayiku berat badannya 4 kg!, lahir normal, pantes
saja tadi aku merasa badanku seperti mau pecah saat mengeluarkannya, beda
banget dengan kelahiran anak pertama yang bobotnya hanya 3, 1 kg. Saat dijahit, rasa sakit tak kurasakan lagi, padahal kata
bidan bukan dijahit lagi mbak, ini mah diobras, haha, rasa sakit hilang saat melihat
bayiku yang montok, sehat dan cantik ...
HP berdering
lagi..dari Abi, aku pakewuh sama bu bidan mau nerima telpon itu, tapi mereka
maklum jadi menyarankanku untuk menerima telpon, padahal aku masih dalam
kondisi sedikit lemas, belum dibersihkan, nafas yang masih tersengal, keringat
membanjiri seluruh tubuhku,basah. Bu Bidan masih menekan – nekan perutku,
sepertinya ada sesuatu yang masih harus dikeluarkan. Kuterima telpon dari suamiku,
adegan dramatis plus romantis kembali dimulai heheπ. Bidan yang menolongku tiga
orang, diklinik ini tidak ada perawat, satu bidan menekan perutku, membersihkan
tubuhku, satu lagi menolong bayiku, sedangkan satu lagi memberi pengarahan,
beliau bidan senior. Telpon ditutup kembali, dan akan menelpon lagi jika bayi
kami sudah dibersihkan untuk di adzani.
Ba’da maghrib aku dan
bayiku sudah dipindah ke ruang perawatan, sudah bersih, rapih dan wangi. Bayi sudah bisa ngAsi, walau kudu berdebat dulu dengan bidannya, yang meminta diberi sufor, sedangkan aku berusaha meyakinkannya bahwa aku bisa, karena Asi juga sudah keluar sejak usia kandungan 6 bulan. Suami
menelepon lagi, untuk mengadzani anak kami, karena kondisi berjarak jauh..maka
diadzani lewat handphone..ya Allah menetes air mata ini, antara bahagia
sekaligus haru. Alhamdulillah ..bersyukur meskipun berjauhan, bayi kami masih
bisa diadzani langsung oleh abinya. Beberapa tahun kemudian ada iklan salah
satu provider seluler nasional yang tayang di stasiun televisi seperti adegan
itu, iklan itu bercerita tentang pasangan yang LDM, melahirkan tak ditunggui
dan bayinya di adzani via handphone,
mirip kisah kami...π
#NBB
#NulisBukuBareng
#IIPSoloRaya
#Buahhati
Melahirkan itu memang jihad yg tidak ada duanya bunda..
BalasHapusIya Bunda, bersyukur diberi kesempatan merasakannya ..
Hapus