Senin, 02 April 2018
Pagi-pagi Adik udah ngambek gak mau mandi dan pergi sekolah.
Dia tiduran dikasur depan TV yang tidak dinyalakan. Saya dekati dia ikut
tiduran disampingnya, kenapa ya adik gak mau sekolah, biasanya rajinbatin saya.
Ternyata alasan Adik karena dia sariawan, pantesan dari tadi megangi mulutnya
terus.
Saya perlihatkan lima jari kanan saya ‘’Dik, jari ini ada
berapa ya?’’
‘’Lima..’’jawab Adik
‘’Pinter …’’ saya memuji adik tulus
‘’Give me five dik…’’ Adik belum paham ‘’berikan lima jarimu
dik?’’
Adik menunjukan lima jari sebelah kanan.
Jariku ada lima, dan jari adik ada lima juga. ‘’Kalau ini
ditambah ini jadi berapa dik?’’
Saya menyandingkan jari kami. ‘’Sepuluh ‘’ jawab Adik
‘’wah hebaaat adik ya.., jawabannya benar
‘’Yuuk kita hitung yuuk sepuluh itu seperti apa sih..’’
Saya mengajak adik untuk menghitung jumlah jari kami,
tujuannya agar adik bias merasakan secara kongkrit jumlah sepuluh jari, tidak
hanya abstrak atau lambing saja.
Kami kembali bermain, mulai menghitung jumlah tangan, kaki,
jari kaki, telinga, mulut, dan hidung. Adik mengulang jumlah anggota tubuh itu
dengan lancar. Namun saya meminta menghitung ulang jumlah anggota badan yang
disebutkan tadi dengan cara memegang langsung. Sebagai contoh ketika adik
mengatakan jumlah telinga saya ada dua. Dia lalu memegang kedua telinga satu
saya…
Saat itulah saya berteriak..’’aaa..aku dijewer oleh adik’’
Kami tertawa bersama…
Aaah serunya permainan matematika di sekitar kita…
Kakak yang sedang duduk didekat meja makan, ikutan memberi
pertanyaan kepada adik. Kakak menunjukan 1 jarinya. ‘’Dik ..ini ada berapa’’
‘’Satu ‘’ jawab adik cepat
Lalu kakak bertanya sampai 5 jari …kemudian berseru
..’’Dadaa….’’
Adik tertawa …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar