Bismillah ....
Adik mengajak saya untuk menyusun fuzzle angka lagi. Sudah
beberapa kali tapi adik belum bosan menyusun fuzzle yang sama.
Saya ada ide, bagaiamana kalau adik mengenal lambang
bilangan atau angka dengan metode yang berbeda. Saya ambil sendok dan sumpit, masing-masing
berjumlah 4.
Adik sendok ini ada berapa? Tanya saya sambil menunjukan dua
sendok. Panggilan saya berhasil mengalihkan perhatian adik dari fuzzle. Dia
menjawab ‘’dua’’.
Kemudian saya tanya lagi berapa sendok yang ada ditangan
saya, dia jawab tiga. Jelas salah karena sendok ditangan saya ada empat. Saya
ingin lanjutkan permainan ini, namun adik kelihatan kurang tertaarik mengkuti
permainan ini.
Ketika saya tanya lagi jumlah sendok yang saya letakan
dilantai..dia tidak mau menjawab lagi dengan suara. Dia menjawab dengan sumpit.
Kalau saya tanya sendok ini ada berapa? Dia memjawab dengan jumlah yang sama
dengan cara menunjukan sumpit ditanganya. Misalnya saya pegang sendok satu,
maka dia akan pegang satu sumpit sebagai jawaban.
Adik lebih suka menjawab dengan praktik langsung, dibanding
menjawab dengan suara.
Kalau seperti ini, termasuk kategori gaya belajar apa ya
Bunda??
Hehe ...
Yuuuk kita cek lagi ciri-cirinya....
Gaya belajar auditori adik terlihat sangat kurang, namun tak
ada salahnya dilakukan lagi stimuli auditori. Supaya adik tumbuh seimbang ketika
dewasa. Karena dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa mentang-mentang memiliki
gaya belajar dominan kinestetis dan visual kemudian tidak mau mengasah belajar
auditori. Bagaiamana kalau pada saat sekolah/ kuliah nanti dapat dosen yang
cara mengajarnya hanya ceramah saja?. Atau kalau bekerja bersama team, kita
tidak mau memahami presentasi dari pimpinan atau kolega yang kebetulan punya
gaya belajar audotori? Tidak mungkin juga kan, pimpinan atau kolega diminta mengikuti
gaya belajar kita??
Baiklah..cukup sekian laporan hari ini. Terimakasih
#harike8
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP
Surakarta, Kamis 08 Februari 2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar