Rabu, 29 November 2017

Game Level #2 Kelas Bunda Sayang

Abi Budi, Umi Rahayu, Mas Arsyad, Kak Alya dan Mba Ayla


Melatih Kemandirian 

Bismillah, mulai menulis di blog lagi nih..
Alhamdulillah dengan mendapat tugas di kelas Bunda Sayang ini, saya jadi tergerak lagi untuk menulis di Blog. Semoga ini menajdi habit  yang baik dan bisa istiqomah untuk seterusnya, selamanya. Aamiin.


Game level #2 di kelas Bunda sayang kali ini adalah melatih kemandirian. Heem...jadi ingat beberapa waktu sebelumnya, rasanya anak-anak saya tumbuh mandiri secara alami tanpa perlu saya latihkan. Seperti Toilet Training, Makan sendiri, Masak sendiri, Cuci piring, mandi sendiri, menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri dan lain sebagainya.


Khususnya untuk anak pertama (10 tahun, 11 bulan) dan Anak kedua (9 tahun, 2 bulan). Boleh dikatakan tidak ada kesulitan dalam melatih hal-halyang sudah saya sebutkan diatas, bahkan ketika saya belum siap mengajarinya, mereka sudah minta. Contohnya belajar memasak telur sendiri, saya berniat nanti kalau usia anak 10 tahun baru akan saya latih memasak makanan sendiri. Nyatanya, pada usia 6 tahunan anak-anak sudah minta (boleh dibilang sampai memohon dengan sangat) agar diizinkan masak sendiri. Saya cukup mendampingi satu kali, selanjutnya sudah bisa dilepas sendiri. Syarat boleh masak sendiri adalah 1. Harus ada orang dewasa di rumah, 2. Harus izin terlebih dahulu sebelum memasak. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga, supaya tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan, speerti lupa matikan kompor, sehingga ada yang mengingatkan. Berawal dari sering melihat kakak-kakaknya memasak, adiknya yang baru berusia 5 tahun, jadi ikutan ingin masak sendiri, saya izinkan namun saya masih saya awasi dan dampingi.


Baiklah, kemabli ke tugas Bunda Sayang level #2 ini, saya mulai berpikir apa ya kira-kira yang anak-anak kami belum bisa mandiri? Eeehmm...banyak sih, wah jadi metani kebiasaan anak-anak nih.
Untuk anak pertama saya panggil Mamas, sepertinya belum tertib menaruh tas dan pakaian ganti pada tempatnya, juga belum rajin merapikan kamarnya. Selain itu, belum bisa mengatur waktunya sendiri, karena belajar, hafalan dan mengisi PR masih sering harus diingatkan. Bahkan untuk kegiatan ibadah sholat subuh, tahajud masih harus diingatkan. Ini jelas kemunduran, karena dulu setiap subuh sudah bangun dan sholat dan tidak tidur lagi, suka berpuasa senin dan kamis, sholat tahajud. Itu kan fitrah anak, kalau sekarang terjadi kemunduran, tugas orang tualah untuk mengembalikan fitrah anak tersebut (Septi P. Wulandani). Maaf saya lupa tahun berapa..hehe.


Kemudian anak kedua adalah Kakak Alya. Kak Alya merupakan anak yang mandiri, sejak bayi tidak banyak menyita perhatian saya.  Dia bukan anak yang rewel, anteng. Sampai- sampai saat bangun tidur saya tidak tau, karena dia tidak menangis atau memangil saya ketika sudah bisa bicara. Hal tersebut, berlangsung ketika masuk usia sekolah, belajar calistung tidak suka kalau diajari, lebih suka belajar sendiri. Baru bertanya kepada saya atau Abinya ketika benar-benar kepepet tidak bisa menjawab sendiri. Guru TK-nya pun pernah bilang kepada saya, “ saya itu tidak pernah ngajari mba Alya membaca kok Bu, dia sudah bisa sendiri, saya hanya mengawasi saja’’.  Ketika dia SD pun demikian, hampir tidak pernah minta ajari saya atau Abinya, tau-tau pas bagi raport, nilainya bagus-bagus. Namun, akhir-akhir ini saya harus berjuang keras untuk mengembalikan fitrahnya. Fitrah apa? Segera mandi pagi tanpa diingatkan, sholat tepat waktu dan meletakan tas, sepatu, pakaian pada tempatnya. Oiya, Kak Alya ini sangat hobi membaca lho, nurun dari emaknya deh kayaknya..haha, GR boleh ya. Tiada hari tanpa membaca deh mba Alya mah.


Nah, bagaimana dengan anak ketiga, Mba Ayla si cantik   yang menggemaskan ini (maaf saya puji ya? Hehe). Mba Ayla tumbuh juga menjadi anak yang mandiri, di usia 3 tahun sudah minta mandi sendiri, makan sendiri, BAK dan BAB di toilet, nerangkat tidur sendiri. Dia juga yang minta sekolah, padahal kami belum siap melepaskan hari-harinya selain di rumah. Dia sekarang ada kemunduran juga, kalau makan kadang minta disuapi, minat dimandiin, malah kadang masih ngompol. Padahal waktu kecil dia sudah menangis bangunkan saya ke toilet pada malam hari, untuk pipis. Walau tidak setiap hari, belum tentu sebulan sekali dia ngompol, namun itu menjadi perhatian kami, ada pa dengan anak ini? Kok mengalami kemundurun? Usut punya usut, ingin mendapat perhatian rupanya. Tak heran, kalau mau tidur pun, dia merengek minta dikeloni sekarang. Ya sudahlah, itu kode keras..untuk orang tuanya untuk mengembalikan fitrahnya.


Tak lengkap dong, cerita anak-anak tadi tanpa tau sosok kedua orang tuanya..hehe. Suami saya atau Abi dari anak-anak saya adalah sosok yang mandiri, aah yang bener? Iya bener! Secara beliau pernah studi ke negerinya Ratu Elizabeth, tanpa didampingi saya dan anak-anak, selama 2 tahun. Tak hanya sampai disitu, pertengahan tahun 2013  sampai September 2016, beliau hidup sendiri di Lampung. Sementara saya dan anak – anak hijrah ke Surakarta. Nah, berdasarkan cerita tersebut, tidak diragukan lagi kan, kalau beliau itu sosok yang mandiri.
Begitu juga sebaliknya, saya sebagai istri tentu sudah terbiasa melakukan banyak hal sendiri, saat suami tercinta tak disisi, hiks.  Maka, tak heran saya kudu menguasai berbagai ketrampilan sepreti nyetir motor, mobil kudu bisa, walau awalnya ...’’Sungguuuh terpaksaaa...’’     wuaa, lagunya Bang Haji Rhoma mode on ..hehe.


So, kemandirian macam apa nih yang akan dipraktikkan bersama dalam keluarga ini? Banyaaak, jawabnya. Namun, sesuai perintah cukup 1 week 1 skill. Saya mau latih untuk semua anggota keluarga, biar seru saja. Mulai dari mamas, kakak dan adik , juga saya dan suami saya. Mengapa orang tua juga ikut berlatih, karena anak-anak butuh role model yang nyata dari kedua orang tuanya.

Untuk Mamas, saya ingin latih skill meletakan tas pada tempatnya, demikian juga untuk kak Alya dan mba Ayla. 1 minggu ini skill sederhana itu dulu deh. Untuk suami saya, saya dan suami mau latihan minum 8 gelas sehari, secara saya terutama paling susah minum air putih. Suami juga sedang mengalami kemundurun nih, kurang rajin minum air putih. Itu dulu ya..lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Game level #2 tantangan 10 Hari Budi’s Family 
Peserta dan Tugas
Hari Ke -
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Mas Arsyad

Meletakan tas dan sepatu di tempatnya










Kak Alya

Meletakan Tas dan sepatu di tempatnya










Merapikan buku yang selesai dibaca










Mba Ayla

Meletakan Tas dan sepatu pada tempatnya










Umi Rahayu

Minum Air putih 8 gelas sehari










Meletakan Bros pada tempatnya










Abi Budi

Minum air putih 8 gelas sehari










Meletakan Handuk pada tempatnya












Itulah list tugas kami sekeluarga, semoga kami bisa menjadi team yang kompak dan solid dalam membangun kemandirian dengan melakukan kebiasaan baik setiap hari, tiada henti, semoga berhasil. Aamiin.  Jangan lupa beri cek list setiap hari ya?

Game ini akan dimulai besok tanggal 30 November 2017. Insyaallah selama 10 hari ke depan, akan dilaporkan di blog ini. Terimakasih

πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š

πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

#Level2
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Say Hello Gado=Gado Pasca Libur Panjaang Ngeblog

Bismillah .. Hallo bunda....lama tak jumpa, apabakar? Semoga selalu sehat dan bermanfaat untuk sesama..aamiin. Lama menghilang ..tetiba ...