![]() |
| Abi Budi, Umi Rahayu, Mas Arsyad, Kak Alya dan Mba Ayla |
Melatih Kemandirian
Bismillah, mulai menulis di blog lagi nih..
Alhamdulillah dengan mendapat tugas di kelas Bunda Sayang
ini, saya jadi tergerak lagi untuk menulis di Blog. Semoga ini menajdi habit yang baik dan bisa istiqomah untuk seterusnya,
selamanya. Aamiin.
Game level #2 di kelas Bunda sayang kali ini adalah melatih
kemandirian. Heem...jadi ingat beberapa waktu sebelumnya, rasanya
anak-anak saya tumbuh mandiri secara alami tanpa perlu saya latihkan. Seperti
Toilet Training, Makan sendiri, Masak sendiri, Cuci piring, mandi sendiri,
menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri dan lain sebagainya.
Khususnya untuk anak pertama (10 tahun, 11 bulan) dan Anak
kedua (9 tahun, 2 bulan). Boleh dikatakan tidak ada kesulitan dalam melatih
hal-halyang sudah saya sebutkan diatas, bahkan ketika saya belum siap
mengajarinya, mereka sudah minta. Contohnya belajar memasak telur sendiri, saya
berniat nanti kalau usia anak 10 tahun baru akan saya latih memasak makanan
sendiri. Nyatanya, pada usia 6 tahunan anak-anak sudah minta (boleh dibilang
sampai memohon dengan sangat) agar diizinkan masak sendiri. Saya cukup
mendampingi satu kali, selanjutnya sudah bisa dilepas sendiri. Syarat boleh
masak sendiri adalah 1. Harus ada orang dewasa di rumah, 2. Harus izin terlebih
dahulu sebelum memasak. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga, supaya tidak
terjadi hal – hal yang tidak diinginkan, speerti lupa matikan kompor, sehingga
ada yang mengingatkan. Berawal dari sering melihat kakak-kakaknya memasak, adiknya
yang baru berusia 5 tahun, jadi ikutan ingin masak sendiri, saya izinkan namun
saya masih saya awasi dan dampingi.
Baiklah, kemabli ke tugas Bunda Sayang level #2 ini, saya
mulai berpikir apa ya kira-kira yang anak-anak kami belum bisa mandiri? Eeehmm...banyak
sih, wah jadi metani kebiasaan anak-anak nih.
Untuk anak pertama saya panggil Mamas, sepertinya belum
tertib menaruh tas dan pakaian ganti pada tempatnya, juga belum rajin merapikan
kamarnya. Selain itu, belum bisa mengatur waktunya sendiri, karena belajar, hafalan
dan mengisi PR masih sering harus diingatkan. Bahkan untuk kegiatan ibadah
sholat subuh, tahajud masih harus diingatkan. Ini jelas kemunduran, karena dulu
setiap subuh sudah bangun dan sholat dan tidak tidur lagi, suka berpuasa senin
dan kamis, sholat tahajud. Itu kan fitrah anak, kalau sekarang terjadi
kemunduran, tugas orang tualah untuk mengembalikan fitrah anak tersebut (Septi P.
Wulandani). Maaf saya lupa tahun berapa..hehe.
Kemudian anak kedua adalah Kakak Alya. Kak Alya merupakan
anak yang mandiri, sejak bayi tidak banyak menyita perhatian saya. Dia bukan anak yang rewel, anteng. Sampai-
sampai saat bangun tidur saya tidak tau, karena dia tidak menangis atau
memangil saya ketika sudah bisa bicara. Hal tersebut, berlangsung ketika masuk
usia sekolah, belajar calistung tidak suka kalau diajari, lebih suka belajar
sendiri. Baru bertanya kepada saya atau Abinya ketika benar-benar kepepet tidak
bisa menjawab sendiri. Guru TK-nya pun pernah bilang kepada saya, “ saya itu
tidak pernah ngajari mba Alya membaca kok Bu, dia sudah bisa sendiri, saya
hanya mengawasi saja’’. Ketika dia SD
pun demikian, hampir tidak pernah minta ajari saya atau Abinya, tau-tau pas bagi
raport, nilainya bagus-bagus. Namun, akhir-akhir ini saya harus berjuang keras
untuk mengembalikan fitrahnya. Fitrah apa? Segera mandi pagi tanpa diingatkan,
sholat tepat waktu dan meletakan tas, sepatu, pakaian pada tempatnya. Oiya, Kak
Alya ini sangat hobi membaca lho, nurun dari emaknya deh kayaknya..haha, GR
boleh ya. Tiada hari tanpa membaca deh mba Alya mah.
Nah, bagaimana dengan anak ketiga, Mba Ayla si cantik yang menggemaskan
ini (maaf saya puji ya? Hehe). Mba Ayla tumbuh juga menjadi anak yang mandiri,
di usia 3 tahun sudah minta mandi sendiri, makan sendiri, BAK dan BAB di
toilet, nerangkat tidur sendiri. Dia juga yang minta sekolah, padahal kami belum
siap melepaskan hari-harinya selain di rumah. Dia sekarang ada kemunduran juga,
kalau makan kadang minta disuapi, minat dimandiin, malah kadang masih ngompol.
Padahal waktu kecil dia sudah menangis bangunkan saya ke toilet pada malam
hari, untuk pipis. Walau tidak setiap hari, belum tentu sebulan sekali dia
ngompol, namun itu menjadi perhatian kami, ada pa dengan anak ini? Kok mengalami
kemundurun? Usut punya usut, ingin mendapat perhatian rupanya. Tak heran, kalau
mau tidur pun, dia merengek minta dikeloni sekarang. Ya sudahlah, itu kode keras..untuk
orang tuanya untuk mengembalikan fitrahnya.
Tak lengkap dong, cerita anak-anak tadi tanpa tau sosok
kedua orang tuanya..hehe. Suami saya atau Abi dari anak-anak saya adalah sosok
yang mandiri, aah yang bener? Iya bener! Secara beliau pernah studi ke
negerinya Ratu Elizabeth, tanpa didampingi saya dan anak-anak, selama 2 tahun.
Tak hanya sampai disitu, pertengahan tahun 2013 sampai September 2016, beliau hidup sendiri di
Lampung. Sementara saya dan anak – anak hijrah ke Surakarta. Nah, berdasarkan
cerita tersebut, tidak diragukan lagi kan, kalau beliau itu sosok yang mandiri.
Begitu juga sebaliknya, saya sebagai istri tentu sudah
terbiasa melakukan banyak hal sendiri, saat suami tercinta tak disisi, hiks. Maka, tak heran saya kudu menguasai berbagai
ketrampilan sepreti nyetir motor, mobil kudu bisa, walau awalnya ...’’Sungguuuh
terpaksaaa...’’ wuaa, lagunya Bang Haji Rhoma mode on ..hehe.
So, kemandirian macam apa nih yang akan dipraktikkan bersama
dalam keluarga ini? Banyaaak, jawabnya. Namun, sesuai perintah cukup 1 week 1
skill. Saya mau latih untuk semua anggota keluarga, biar seru saja. Mulai dari
mamas, kakak dan adik , juga saya dan suami saya. Mengapa orang tua juga ikut berlatih, karena anak-anak butuh role model yang nyata dari kedua orang tuanya.
Untuk Mamas, saya ingin latih skill meletakan tas pada
tempatnya, demikian juga untuk kak Alya dan mba Ayla. 1 minggu ini skill
sederhana itu dulu deh. Untuk suami saya, saya dan suami mau latihan minum 8
gelas sehari, secara saya terutama paling susah minum air putih. Suami juga
sedang mengalami kemundurun nih, kurang rajin minum air putih. Itu dulu ya..lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Game level #2 tantangan 10 Hari Budi’s Family
Peserta dan Tugas
|
Hari Ke -
|
|||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
Mas
Arsyad
|
||||||||||
Meletakan tas dan sepatu di tempatnya
|
||||||||||
Kak
Alya
|
||||||||||
Meletakan Tas dan sepatu di tempatnya
|
||||||||||
Merapikan buku yang selesai dibaca
|
||||||||||
Mba
Ayla
|
||||||||||
Meletakan Tas dan sepatu pada
tempatnya
|
||||||||||
Umi
Rahayu
|
||||||||||
Minum Air putih 8 gelas sehari
|
||||||||||
Meletakan Bros pada tempatnya
|
||||||||||
Abi
Budi
|
||||||||||
Minum air putih 8 gelas sehari
|
||||||||||
Meletakan Handuk pada tempatnya
|
||||||||||
Itulah list tugas kami sekeluarga, semoga kami bisa menjadi
team yang kompak dan solid dalam membangun kemandirian dengan melakukan
kebiasaan baik setiap hari, tiada henti, semoga berhasil. Aamiin. Jangan lupa beri cek list
setiap hari ya?
Game ini akan dimulai besok tanggal 30 November 2017. Insyaallah selama 10 hari ke depan, akan dilaporkan di blog ini. Terimakasih
Game ini akan dimulai besok tanggal 30 November 2017. Insyaallah selama 10 hari ke depan, akan dilaporkan di blog ini. Terimakasih
πππππππππππ
πππππππππ
#Level2
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10hari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar