‘’Gajah
mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama,’’ pepatah itu
mengingatkanku pada sosok wanita sederhana yang hidup sekitar 30 tahun yang
lalu. Beliau
sudah lama tiada, tapi namanya masih tetap harum bagai bunga
melati. Semasa hidupnya senang berbuat kebaikan, meskipun kondisi ekonomi yang
tidak terlalu berlebih, tak menghalanginya untuk berbagi dengan orang-orang di sekitarnya.
Kami
memanggilnya Bulek, karena usianya lebih muda dari ibu kami. Rumahnya hanya berjarak
satu rumah dengan rumah kami. Meskipun Bulek berbeda keyakinan dengan sebagian
besar warga disini, tetapi hal itu tidak menjadi tirai untuk bersilaturahmi,
kami hidup rukun dan saling menghormati. Hampir setiap pagi Bulek memasak tiwul
dan sayur serta lauk sederhana berupa tempe
goreng atau ikan asin. Setampah besar nasi tiwul hangat beserta sayur dan
lauknya disajikan di atas meja yang ada di teras depan rumah. Satu teko besar teh
manis tak lupa disediakan untuk minum. Siapapun boleh menikmatinya, karena
makanan dan minuman itu memang disediakan secara cuma-cuma. Aktifitas itu rutin
dilakukan oleh Ibu muda dengan tujuh anak itu setiap hari, kecuali bulek sedang
pergi ke rumah orangtuanya atau ada acara hajatan di tempat saudaranya.
Pemandangan
setiap pagi diteras rumahnya, banyak orang berkerumun, makan sambil ngobrol,
bercanda bersama layaknya di warung
kopi. Walaupun makanan yang disajikan sangat sederhana, tapi terasa nikmat,
terlihat dari wajah-wajah
orang yang kelihatan bahagia saat menikmatinya. Orang-orang itu adalah tetangga
sekitarnya saja yang sudah saling kenal, sehingga tempat itu juga menjadi ajang
untuk saling silaturahmi sebelum mereka berangkat ke ladang untuk bekerja. Kalau
Bulek tidak sempat masak pagi-pagi, biasanya makanan itu baru tersedia sekitar
pukul 10 atau 11. Jam segitu biasanya orang-orang yang sejak subuh ke ladang
sudah pulang, mereka menyempatkan diri mampir untuk menikmati sajian Bulek
sebelum pulang ke rumah melepas lelah.
Masa
itu di desaku belum ada irigasi untuk mengairi sawah, sehingga warganya yang
sebagian besar bermata pencarian sebagai petani hanya bisa menanam padi di rawa
yang luasnya terbatas. Ladang yang luas, biasanya ditanami jagung, sayuran dan
singkong. Namun tanaman yang umum ditanam adalah singkong, kalau panen sangat
melimpah. Hasil panen itu kemudian diolah menjadi tiwul, gogik, dan oyek. Gogik
adalah tiwul yang dikeringkan supaya awet dan tahan lama untuk disimpan. Sedangkan
oyek
juga hasil olahan singkong yang mirip dengan tiwul tapi berbeda proses pembuatannya.
Tiwul masih menjadi makanan pokok kala itu dan nasi putih masih menjadi makanan
istimewa yang tidak setiap hari bisa dinikmati oleh sebagian besar warga. Kalau
sedang ada rezeki lebih biasanya tiwul dicampur dengan nasi putih sehingga
warnanya menjadi hitam putih.
Suatu
hari aku melihat banyak orang berkumpul dirumah Bulek, tapi kali ini lebih
banyak dari biasanya. Semakin lama orang yang datang semakin banyak, halaman rumahnya
yang luas tidak mampu menampung lagi, ramai sekali bahkan sampai memenuhi
jalan. ‘’Ada apakah gerangan?’’ tanyaku dalam hati ‘’Kenapa semua orang yang ada disana
menangis?”
Aku
semakin penasaran. Air mata ini tak dapat dibendung ketika mengetahui sebabnya,
ternyata Bulek meninggal karena melahirkan anak ke-8, bayinya kembar. Ya Allah, semoga arwah beliau diterima disisi-Nya, Aamiin. Duka mendalam menyelimuti
kampung kami, semua merasa kehilangan sosok Bulek yang dermawan dan baik hati.
Tiada
lagi kerumunan di teras rumah itu, sepi tanpa canda tawa warga lagi, Bulek
hanya tinggal kenangan. Kebaikanmu tak akan pernah mati, Bulek, semoga engkau tenang disana
dalam pelukan Yang Maha Memberi. Bulek, engkau hadir ditengah kami hanya sekejab, tapi engkau telah mengajarkan kepada
kami, bahwa memberi tidak harus dengan sesuatu yang mewah, tidak harus menunggu
kaya, dan memberi tidak perlu melihat keyakinan orang yang diberi. Terimakasih
Bulek.
Surakarta, 29 April 2017
Sri Rahayu-Istri dari Budi Kadaryanto dan Ibu dari
tiga anak (Arsyad, Alya dan Ayla) yang saat ini sedang belajar menjadi hamba
Allah yang suka ‘’memberi’’.
#NBB2017
#IIPSoloRaya
#NulisBukuBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar