Sabtu, 08 Juli 2017

Bulek dan Setampah Tiwul



‘’Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama,’’ pepatah itu mengingatkanku pada sosok wanita sederhana yang hidup sekitar 30 tahun yang lalu. Beliau sudah lama tiada, tapi namanya masih tetap harum bagai bunga melati. Semasa hidupnya senang berbuat kebaikan, meskipun kondisi ekonomi yang tidak terlalu berlebih, tak menghalanginya untuk berbagi dengan orang-orang di sekitarnya.   

Kami memanggilnya Bulek, karena usianya lebih muda dari ibu kami. Rumahnya hanya berjarak satu rumah dengan rumah kami. Meskipun Bulek berbeda keyakinan dengan sebagian besar warga disini, tetapi hal itu tidak menjadi tirai untuk bersilaturahmi, kami hidup rukun dan saling menghormati. Hampir setiap pagi Bulek memasak tiwul dan  sayur serta lauk sederhana berupa tempe goreng atau ikan asin. Setampah besar nasi tiwul hangat beserta sayur dan lauknya disajikan di atas meja yang ada di teras depan rumah. Satu teko besar teh manis tak lupa disediakan untuk minum. Siapapun boleh menikmatinya, karena makanan dan minuman itu memang disediakan secara cuma-cuma. Aktifitas itu rutin dilakukan oleh Ibu muda dengan tujuh anak itu setiap hari, kecuali bulek sedang pergi ke rumah orangtuanya atau ada acara hajatan di tempat saudaranya.

Pemandangan setiap pagi diteras rumahnya, banyak orang berkerumun, makan sambil ngobrol, bercanda bersama layaknya di warung kopi. Walaupun makanan yang disajikan sangat sederhana, tapi terasa nikmat, terlihat dari wajah-wajah orang yang kelihatan bahagia saat menikmatinya. Orang-orang itu adalah tetangga sekitarnya saja yang sudah saling kenal, sehingga tempat itu juga menjadi ajang untuk saling silaturahmi sebelum mereka berangkat ke ladang untuk bekerja. Kalau Bulek tidak sempat masak pagi-pagi, biasanya makanan itu baru tersedia sekitar pukul 10 atau 11. Jam segitu biasanya orang-orang yang sejak subuh ke ladang sudah pulang, mereka menyempatkan diri mampir untuk menikmati sajian Bulek sebelum pulang ke rumah melepas lelah.   

Masa itu di desaku belum ada irigasi untuk mengairi sawah, sehingga warganya yang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani hanya bisa menanam padi di rawa yang luasnya terbatas. Ladang yang luas, biasanya ditanami jagung, sayuran dan singkong. Namun tanaman yang umum ditanam adalah singkong, kalau panen sangat melimpah. Hasil panen itu kemudian diolah menjadi tiwul, gogik, dan oyek. Gogik adalah tiwul yang dikeringkan supaya awet dan tahan lama untuk disimpan. Sedangkan oyek juga hasil olahan singkong yang mirip dengan tiwul tapi berbeda proses pembuatannya. Tiwul masih menjadi makanan pokok kala itu dan nasi putih masih menjadi makanan istimewa yang tidak setiap hari bisa dinikmati oleh sebagian besar warga. Kalau sedang ada rezeki lebih biasanya tiwul dicampur dengan nasi putih sehingga warnanya menjadi hitam putih.    
  
Suatu hari aku melihat banyak orang berkumpul dirumah Bulek, tapi kali ini lebih banyak dari biasanya. Semakin lama orang yang datang semakin banyak, halaman rumahnya yang luas tidak mampu menampung lagi, ramai sekali bahkan sampai memenuhi jalan. ‘’Ada apakah gerangan?’’ tanyaku dalam hati  ‘’Kenapa semua orang yang ada disana menangis? Aku semakin penasaran. Air mata ini tak dapat dibendung ketika mengetahui sebabnya, ternyata Bulek meninggal karena melahirkan anak ke-8, bayinya kembar. Ya Allah, semoga arwah beliau diterima disisi-Nya, Aamiin. Duka mendalam menyelimuti kampung kami, semua merasa kehilangan sosok Bulek yang dermawan dan baik hati.

Tiada lagi kerumunan di teras rumah itu, sepi tanpa canda tawa warga lagi, Bulek hanya tinggal kenangan. Kebaikanmu tak akan pernah mati, Bulek, semoga engkau tenang disana dalam pelukan Yang Maha Memberi. Bulek, engkau hadir ditengah kami hanya sekejab, tapi engkau telah mengajarkan kepada kami, bahwa memberi tidak harus dengan sesuatu yang mewah, tidak harus menunggu kaya, dan memberi tidak perlu melihat keyakinan orang yang diberi. Terimakasih Bulek.

Surakarta, 29 April 2017
Sri Rahayu-Istri dari Budi Kadaryanto dan Ibu dari tiga anak (Arsyad, Alya dan Ayla) yang saat ini sedang belajar menjadi hamba Allah yang suka ‘’memberi’’.

#NBB2017
#IIPSoloRaya

#NulisBukuBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Say Hello Gado=Gado Pasca Libur Panjaang Ngeblog

Bismillah .. Hallo bunda....lama tak jumpa, apabakar? Semoga selalu sehat dan bermanfaat untuk sesama..aamiin. Lama menghilang ..tetiba ...